This book was created with Inkfluence AI · Create your own book in minutes. Start Writing Your Book
Starlight High School Jakarta
Fiction

Starlight High School Jakarta

by Srirahaayu · Published 2026-05-23

Created with Inkfluence AI

5 chapters 8,947 words ~36 min read Indonesian

Kisah drama sekolah asrama seni dengan persahabatan dan konflik

Table of Contents

  1. 1. Asrama Starlight dan Nilai Seni
  2. 2. Natalie Menolong, Iko Terpacu
  3. 3. Sultan Acting dan Rencana Latihan
  4. 4. Bullying Ilene dan Sarah Memuncak
  5. 5. Akrab Baru, Bakat Dibuktikan

Preview: Asrama Starlight dan Nilai Seni

A short excerpt from “Asrama Starlight dan Nilai Seni”. The full book contains 5 chapters and 8,947 words.

Uap hangat dari mesin cuci asrama menempel di ujung jari Iko saat ia mengangkat tas kainnya melewati lorong lantai dua. Suara langkah sepatu yang bertabrakan dengan lantai keramik terdengar seperti ketukan metronom-cepat, tidak sabar, dan membuat dada Iko ikut berlari. Dari jendela kecil, udara Jakarta pagi menembus, membawa bau hujan yang sudah mengering dan aroma roti dari dapur asrama yang entah kenapa selalu lebih dulu tercium daripada sarapan.


Iko menahan napas sebentar ketika bel kecil di ujung koridor berbunyi, nada tinggi yang langsung membuat semua orang merapikan diri. Di kepalanya masih berputar nada yang semalam ia coba di kamar bersama Trixie dan Fey-nada yang seharusnya terdengar rapi, tapi telinganya belum bisa percaya karena kamar asrama terasa terlalu sempit untuk suara sebesar itu. Ia menepuk casing alat musiknya, memastikan kunci dan engselnya masih rapat. “Hari ini harus bener,” gumamnya, suaranya nyaris tenggelam oleh suara pintu yang dibanting kelas lain.


Trixie berjalan di sampingnya, rambutnya masih agak lembap karena baru selesai mandi, dan kausnya tampak siap untuk latihan meski belum sarapan. Fey membawa map gambar yang sudutnya sudah kusut, seperti dia selalu membawa sesuatu yang penting, bahkan saat santai. Mereka bertiga seperti satu paket-orang-orang di asrama sudah mulai mengenali gerak mereka, cara mereka saling menyenggol pelan saat melewati sudut, dan cara Iko otomatis melambat ketika Trixie berhenti mendengar suara yang tidak sesuai.


“Aku dengar asrama bagian depan rame,” kata Fey, suaranya rendah, matanya mengamati keramaian di ujung koridor.


“Rame itu biasa,” jawab Trixie. Tapi ia mengerutkan kening, menandai sesuatu yang tidak biasa. “Tadi di lobi ada pengumuman soal penilaian seni minggu ini. Kata kakak-kakak, ini yang bikin nilai raport kelas sepuluh agak… panas.”


Iko merasakan panas itu merayap ke punggungnya. Nilai raport berdasarkan seni dan bakat. Di Starlight High School Jakarta, prestasi bukan sekadar angka yang ditempel di papan pengumuman-itu suara yang memutuskan kelas mana bakal mendapat tempat latihan bagus, siapa yang dipilih tampil duluan, dan siapa yang harus rela latihan di sudut ruangan yang dingin.


Ia ingin tampil tanpa terlihat seperti orang baru yang masih mencari pijakan. Ia ingin sekali membuktikan suaranya tidak hilang hanya karena tembok asrama lebih tebal daripada rumahnya. Dan yang paling mendesak, ia ingin memastikan alat musiknya tidak jadi masalah-karena semalam, senar yang ia ganti sendiri sebenarnya sudah terasa sedikit berbeda, seperti nada yang harusnya naik malah tersangkut di tengah.


Mereka berhenti di depan ruang latihan Music. Pintu kayunya sudah terbuka setengah, mengeluarkan suara tuts piano yang diuji berkali-kali-bunyi terang yang memantul ke dinding dan membuat udara terasa seperti penuh percikan kecil. Di dalam, beberapa anak Music bergerombol dengan not-not di tangan, sementara di sudut ruangan ada orang yang sedang mengatur kursi dan mengecek mikrofon kecil.


Iko masuk pelan, casing alat musiknya masih dipegang erat. Begitu langkahnya melewati ambang, suara bicara langsung menurun, bukan karena semua orang tiba-tiba sopan, tapi karena ada orang tertentu yang membuat ruangan terasa tegang.


Olivia berdiri di dekat rak peralatan, rambutnya disisir rapi seolah tidak pernah terganggu oleh angin lorong. Tasnya-terlalu mahal untuk ukuran asrama-mengilap saat ia memutar bahu. Di sebelahnya, Monica sedang menahan napas ketika memegang alat ukur kecil untuk mengecek jarak mikrofon dengan speaker. Monica terlihat fokus, tapi pipinya sedikit merah, seperti ia menahan emosi dari tadi.


“Kalau kamu ngomong soal standar, kamu selalu ngomong seolah alatmu lebih benar,” kata Olivia tanpa menoleh sepenuhnya. Nada suaranya halus, tapi tajamnya seperti pisau tipis.


Monica menghela napas. “Aku ngomong karena aku mau suaraku keluar bersih. Bukan karena aku pengin terlihat paling.”


Olivia akhirnya menoleh, senyum yang terlalu rapi muncul di wajahnya. “Bersih itu soal disiplin, Monica. Bukan cuma niat.”


Kalimat itu menyenggol sesuatu di perut Iko. Ia belum kenal semua konflik di sekolah ini, tapi ia sudah tahu: standar dan nilai raport bisa jadi alasan paling cantik untuk berantem.


Trixie menegang di samping Iko. Fey menatap Olivia beberapa detik, lalu beralih ke Monica, seolah mencoba menilai siapa yang butuh bantuan lebih dulu.


Iko melangkah mendekat, berusaha terdengar biasa ketika ia bicara. “Maaf, aku cari sesi latihan untuk penilaian. Aku dari Music 2.”


“Music 2?” Olivia mengulang, sorot matanya turun ke casing alat musik Iko sekejap. “Kamu baru, ya?”


Pertanyaan itu bukan pertanyaan biasa. Ada jarak yang ditaruh di sela-selanya. Iko merasakan telinganya panas. Ia ingin bilang, “Aku sudah latihan seminggu penuh,” tapi ia menahan. Di Starlight, kata-kata yang terlalu cepat sering jadi bahan ejekan.


Monica melirik Iko, lalu mengangguk kecil. “Aku setuju soal disiplin,” katanya tiba-tiba, seperti mengambil kendali dari konflik....

About this book

"Starlight High School Jakarta" is a fiction book by Srirahaayu with 5 chapters and approximately 8,947 words. Kisah drama sekolah asrama seni dengan persahabatan dan konflik.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Starlight High School Jakarta" about?

Kisah drama sekolah asrama seni dengan persahabatan dan konflik

How many chapters are in "Starlight High School Jakarta"?

The book contains 5 chapters and approximately 8,947 words. Topics covered include Asrama Starlight dan Nilai Seni, Natalie Menolong, Iko Terpacu, Sultan Acting dan Rencana Latihan, Bullying Ilene dan Sarah Memuncak, and more.

Who wrote "Starlight High School Jakarta"?

This book was written by Srirahaayu and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar fiction book?

You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own fiction book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI